Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh? Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri. Adakah yang salah jika mereka berbeda? Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu. Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi pengua...
All of them are fleeing something. Growing up without a father, Hana’s tired of the pity in her classmates’ eyes, and finds a flashier mother figure in Kimiko. Kimiko is older than Hana's mother but seems much younger, chatting easily about school and boys and wanting a better life. Fate throws them together with two more young women—bruised but not broken by life. Together the four set out to remake their lives, fighting predatory lenders, organized criminals, and plain bad luck as they open a bar called Lemon. Keeping the business going, and trying to take care of each other, forms the core of this enrapturing novel. It is a story of startling reversals and vivid portraits of the matriarchy of Tokyo nightlife and its adjacent criminal underclasses. From the bar owners to the aging hostesses to the young street touts coaxing people off the street to places like Lemon, everyone wants a chance at renewal, but can everyone get it? **** Sisters in Yellow Author : Mieko Kawakami Publ...