Skip to main content

Tiga dalam Kayu oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

 



Di masa depan, perpustakaan tak ubahnya pekuburan prahistoris. Di sanalah kita bertemu dengan seorang gadis, dan sebelas buku yang menceritakan sejarah dengan cara masing-masing. Cerita dalam buku-buku itu sering terasa ganjil, kadang terasa begitu asing, kadang pula sebaliknya: terasa dekat, seperti kita tahu tentang apa sebetulnya cerita-cerita itu. Setiap buku menyajikan cerita yang sepenuhnya berlainan dari buku lain, tetapi kita–sebagaimana gadis itu–tahu bahwa ada satu hal yang menghubungkan sebelas buku itu. Selanjutnya, kita diajak tenggelam dalam dunia di luar buku yang tak kalah ganjil, asing, dan dekat.

***

Tiga dalam Kayu

Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Tahun penerbitan : 2022

Bahasa : Indonesia

Halaman : 168

Genre : Fiksi, Fantasi, Kumpulan Cerita

Rekomendasi Usia : 18+ 

CW : Explicit detail, Gory, minor LGBTQ


Sebelum memulai, aku ingin menyampaikan bahwa tulisan ini murni pengalaman membaca, bukan review atau kritik.

What if I tell you,  jika kamu bukan tipe orang yang membaca sinopsis atau blurb, kamu akan terus mengernyitkan dahi selama membaca buku ini sampai akhirnya menyerah dan memutuskan untuk membaca blurb-nya?

Karena itu yang kulakukan.

Pertama, buku ini terdiri dari Buku I–XI, dilanjutkan  bagian kedua yang terdiri dari tujuh bab. Judul-judulnya di bagian kedua dipenuhi konsonan yang membuatku harus berpikir dua kali untuk membacanya (apalagi memecahkan maknanya).

Buku pertama dibuka dengan kisah anak-anak yang menemukan mayat dalam karung. Saat membacanya, aku bisa melihat ciri khas Ziggy: mengangkat tema kaum marginal dari sudut pandang yang tidak biasa. Namun, kali ini ada pendekatan yang berbeda. Penulis tampak lebih berani bermain dengan kata-kata melalui simbolisme dan repetisi. Narator yang masih anak-anak diberi suara satir tanpa sepenuhnya kehilangan innocence seorang anak.

Memasuki Buku II, aku masih berpikir naratornya adalah orang yang sama. Ia bercerita tentang neneknya, buku berikutnya tentang seorang anak yang lahir dalam pelarian. Sampai pada kisah tentang nenek buyut (aku lupa buku keberapa), aku mulai ragu. Tunggu, apakah mereka semua orang yang sama? Because wdym nenek buyut yang kaya raya punya cicit yang menjadi anak jalanan?

Di situlah aku membuka Goodreads dan membaca review orang lain, mencoba mencari sedikit spoiler atau petunjuk tentang apa yang sebenarnya sedang kubaca. Aku harus bersabar sampai Buku XI untuk memahami konteks yang lebih besar.

Sebelas buku pertama terasa seperti kumpulan cerita pendek, fragmen-fragmen kehidupan yang disajikan melalui pertunjukan bahasa. Ziggy memperlihatkan kepiawaiannya memilih kata, mengawinkan satu kata dengan kata lainnya, serta merangkai simbol dan repetisi untuk menyampaikan sesuatu yang tidak selalu dijelaskan secara eksplisit.

Somehow, gaya penulisannya mengingatkanku pada sastra Indonesia lama, dengan bahasa yang vulgar, metafora yang berlimpah, dan repetisi yang mencolok. Aku merasa sedang menyaksikan sebuah pertunjukan teaterikal bahasa, ketika penderitaan menjadi objek estetis dan perhatianku justru lebih banyak tertuju pada kecakapan pengarang mengolah kata daripada pengalaman emosional tokoh-tokohnya.

Sejujurnya, aku hampir berhenti membaca ketika memasuki Buku IV. Bukan karena aku tidak bisa menikmati absurditas atau cerita yang tidak memberikan penjelasan lengkap, melainkan karena aku mulai merasa jenuh dengan pendekatan estetik seperti ini. Gaya bahasa yang repetitif, vulgar, teatrikal, dan sarat metafora serta simbolisme membuatku lebih terpukau oleh kekerasan yang digambarkan dan kecakapan penulis dalam merangkainya daripada benar-benar terhubung dengan penderitaan yang menjadi inti cerita.

Pola seperti ini cukup sering kutemui dalam sastra Indonesia, dan mungkin itulah sebabnya aku mulai merasa jenuh. Bukan karena penulisnya tidak piawai, tetapi karena aku adalah tipe pembaca yang lebih tertarik mengeksplorasi emotional depth, terutama ketika tema yang diangkat begitu sarat dengan emotional hurt, seperti kehidupan kaum marginal.

Dalam novel-novel Ziggy sebelumnya, aku bisa memahami kekuatan dan keunikannya. Ia mengangkat pengalaman kaum marginal melalui sudut pandang anak-anak yang tidak berdaya, menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan cara mereka memandang dunia, tetapi tetap sarat makna. Ada sesuatu dalam pendekatan tersebut yang membuatku rooting emotionally for the characters.

Di Tiga dalam Kayu, aku merasa jarak emosional itu lebih besar. Gory details-nya menarik, permainan bahasanya mengagumkan, tetapi aku tidak menemukan kedalaman emosional yang biasanya menjadi salah satu kekuatan Ziggy. Emotional intensity yang muncul dari kekejaman dan absurditas tidak selalu berkembang menjadi emotional depth yang kuharapkan.

Sampai akhirnya aku tiba di bagian berikutnya, ketika cerita beralih menjadi sebuah novella. Di sinilah membaca kembali blurb menjadi penting untuk memahami konteks buku ini. Sebelas kisah sebelumnya ternyata diceritakan oleh kakek-kakek yang datang ke sebuah perpustakaan di masa depan, yang dijaga oleh seorang gadis yang suka mengepang rambutnya.

Pada bagian ini, aku seperti diajak memasuki dunia Sayaka Murata, khususnya Earthlings. Ada dunia sureal dan fantasi, batas kenyataan yang menjadi buram, serta absurditas yang tidak selalu perlu dijelaskan secara literal.

Aku tidak keberatan dengan cerita yang absurd atau misterius. Saat membaca Earthlings, aku tidak perlu memahami setiap kejadian secara realistis untuk menikmati pengalaman membacanya. Justru kegilaan dan absurditasnya yang membuatku terus membaca. Aku tidak harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi untuk merasa bahwa pengalaman membaca itu sendiri bermakna.

Karena itu, masalahku dengan Tiga dalam Kayu bukanlah bahwa buku ini terlalu absurd atau tidak memberikan penjelasan yang cukup. Aku hanya merasa bahwa setelah sebelas kisah yang begitu terfragmentasi, aku masih mencari hubungan yang menyatukan semuanya. Bahkan setelah menyelesaikan bagian penutup, aku tidak sepenuhnya menemukan hubungan itu.

Aku kemudian membaca review yang menyebutkan bahwa perempuan dan berbagai derajat penderitaannya merupakan benang merah dari seluruh kisah. Menarik, tetapi sejujurnya aku tidak menangkapnya saat membaca. Tidak semua kisah berpusat pada perempuan, dan pada beberapa bagian aku bahkan sempat bingung apakah naratornya laki-laki atau perempuan. Setelah menutup buku ini pun, aku masih mencoba mencari hubungan yang membuat interpretasi tersebut terasa jelas bagiku.

Mungkin benang merah itu memang ada, dan mungkin aku melewatkan sesuatu. Namun, aku tidak merasakan hubungan tersebut secara organik dari pengalaman membacaku sendiri.

Aku juga merasa kedua bagian buku ini menawarkan pengalaman membaca yang sangat berbeda. Sebelas kisah pertama terasa seperti pertunjukan bahasa dengan gaya yang mengingatkanku pada sastra Indonesia lama, sedangkan novella penutup membawaku ke dunia sureal dan absurd yang lebih mengingatkanku pada Sayaka Murata. Aku masih bertanya-tanya bagaimana kedua pendekatan ini saling melengkapi dan membentuk satu kesatuan.

Pemilihan judul Tiga dalam Kayu sendiri terasa sangat Ziggy, terutama setelah sampai di bagian-bagian akhir. Simbolisme dan permainan katanya memiliki keunikan tersendiri. Aku bisa melihat ambisi penulis dalam mengolah bahasa dan bereksperimen dengan struktur naratif yang tidak konvensional.

Latar perpustakaan sebenarnya terasa seperti kerangka utama yang bisa menghubungkan kesebelas kisah dalam buku ini. Namun, keberadaannya hanya disinggung sekilas dalam novella, sementara konteksnya justru dijelaskan lebih lengkap di blurb. Tanpa membaca blurb, aku rasa akan sulit memahami bagaimana sebelas buku tersebut berhubungan dengan perpustakaan dan narasi yang lebih besar.

Aku sempat berpikir, apakah Ziggy sengaja tidak terlalu menonjolkan latar perpustakaan agar bukunya tidak terkesan terlalu mainstream? Konsepnya mengingatkanku pada The Midnight Library, dan aku sempat membaca bahwa proses kreatif Tiga dalam Kayu sudah dimulai sejak 2018. Aku tidak tahu apakah novel Matt Haig tersebut memengaruhi proses kreatif Ziggy, tetapi gagasan tentang perpustakaan sebagai kerangka sebuah cerita memang sangat menarik untuk dieksplorasi.

Tentu saja, ini hanya spekulasiku. Namun, menurutku, perpustakaan tersebut bisa menjadi pijakan naratif yang lebih kuat untuk menghubungkan kesebelas kisah yang terfragmentasi. Aku berharap latar ini mendapat porsi lebih besar dalam buku itu sendiri, sehingga pembaca tidak perlu bergantung pada blurb untuk memahami konteksnya.

Pada akhirnya, aku merasa Tiga dalam Kayu menawarkan pengalaman membaca yang sama sekali berbeda dari karya-karya Ziggy sebelumnya. Aku bisa mengapresiasi kepiawaiannya bermain bahasa, simbolisme, dan struktur eksperimental. Namun, aku juga merasa bahwa pendekatan tersebut kali ini justru membuatku kehilangan sesuatu yang biasanya kucari dalam tulisannya: kedalaman emosional dan kedekatan dengan karakter.

Penulis tentu tidak berutang penjelasan kepada pembaca. Aku juga tidak membutuhkan setiap simbol diterangkan atau setiap misteri dipecahkan. Namun, aku berharap ada sedikit konteks mengenai visi kreatif di balik buku ini, mungkin melalui sebuah foreword atau catatan pengarang, yang bisa membantuku memahami hubungan antara sebelas kisah tersebut dan novella penutupnya.

Bukan untuk memberitahuku apa yang harus kupikirkan, melainkan untuk memberiku sedikit petunjuk tentang pengalaman membaca seperti apa yang sebenarnya ingin dibangun.

I don't mind a book being mysterious. I just wish the mystery felt more meaningful to me.

Pada akhirnya, Tiga dalam Kayu menjadi dua pengalaman membaca yang sangat berbeda bagiku, tetapi juga sebuah buku yang membuatku terus bertanya-tanya tentang hubungan di antara bagian-bagiannya.

Perhaps I missed something. Perhaps I simply wasn't the right reader for this particular experiment.

Either way, it was a little too mysterious for me.

Comments

Popular posts from this blog

No Longer Human by Osamu Dazai

No Longer Human Author : Osamu Dazai Year 1st Published : 1948 Publisher : Tuttle *** The poignant and fascinating story of a young man who is caught between the breakup of the traditions of a northern Japanese aristocratic family and the impact of Western ideas. Portraying himself as a failure, the protagonist of Osamu Dazai's  No Longer Human  narrates a seemingly normal life even while he feels himself incapable of understanding human beings. Oba Yozo's attempts to reconcile himself to the world around him begin in early childhood, continue through high school, where he becomes a "clown" to mask his alienation, and eventually lead to a failed suicide attempt as an adult. Without sentimentality, he records the casual cruelties of life and its fleeting moments of human connection and tenderness. *** Pernah membaca karya Haruki Murakami? Franz Kafka? Albert Camus?  Jika Ya untuk ketiganya, maka kamu tidak akan asing dengan No Longer Human milik Osamu...

Inheritance, Seri Terakhir Tetralogi Inheritance cycles

Judul : Inheritance Penulis : Christopher Paolini Tahun : 2011 (Indonesia,2012) Publisher : Gramedia (Indonesia) Di bulan Juni 2012 ini, akhirnya Gramedia menerbitkan seri terakhir yang telah ditunggu selama lebih dari 3 tahun, Inheritance. Inheritance merupakan buku keempat dari tetralogi Inheritance Cycle yang ditulis oleh anak muda berbakat, Christoper Paolini. Tetralogi ini terdiri dari Eragon (2002), Eldest (2005), Brisingr (2008), dan Inheritance (2011,diterbitkan di Indonesia 2012). Jika kita sedikit lupa dengan cerita terakhir bagaimana ending di buku ketiga,Brisingr, pada bab pengantar akan disajikan ringkasan tiga buku yang dapat merefresh ingatan kita sampai dimana perjuangan Eragon dan Naga birunya, Saphira untun menumbangkan Galbatorix. Secara keseluruhan, Inheritance cycle mengisahkan tentang perjuangan remaja yatim piatu bernama Eragon yang ditakdirkan berperan sebagai penunggang naga betina terakhir, Saphira. Sebelum bertemu Saphira, seumur hidup Eragon h...

Book Giveaway : Fantasy oleh Novellina A

Fantasy Author : Novellina A. Year Published : April,2014 Tebal : 312 Halaman Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)   "You are my best friend, an angel that God sent to me You cherish my day, occupied me with another shape of love, You are my people I banking all my character into you, Believe you, make you as my front people, You are the reason why I love my youth You are the first person that accept me for real, You are a gift that heaven spent to ease my life.. You are my sister, born from different uterus, You are my crayon, draw colors in my life, You are my faith.  And I love you." Akhirnya, buku Fantasy akan berada di tangan kalian setelah selama bertahun-tahun aku meramunya agar dapat menjadi hiburan (yang semoga inspiratif) bagi kalian para pencari mimpi. Fantasy adalah buku mengenai pencarian mimpi, persahabatan, dan tentu saja cinta. Dalam buku ini akan diceritakan tentang 3 orang sahabat, Davin...