Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?
Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.
Adakah yang salah jika mereka berbeda?
Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.
Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.
Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.
***
Entrok
Penulis : Okky Madasari
Tahun terbit pertama : 2010
Bahasa : Indonesia
Halaman : 284
Genre : Historical Fiction
Rekomendasi Usia : 17+
CW : minor sexuality
Jujur, sebagai orang jawa, saya juga enggak tahu apa arti Entrok, apalagi buku yang saya beli covernya edisi warna hitam-typography-minim gambar, berbeda dengan cetakan pertamanya yang menjelaskan maksud entrok.
Cerita dibuka oleh Rahayu di tahun 1999, dia sedang berbicara pada dirinya sendiri sambil sesekali mengajak ngobrol Ibunya, Marni dan berharap mendapatkan respon dari ibunya.
Kemudian Penulis membawa kita kembali ke era 1950 di sebuah dusun (suspectedly fiction) Srenggat. Era itu Indonesia masih baru saja merdeka, kemiskinan ada dimana-mana termasuk di gubug tempat Marni kecil tumbuh.
Hidup dengan Ibunya, atau biasa dipanggil simbok, tanpa seorang Ayah, Marni tumbuh buta huruf dan penuh keterbatasan materi. Sampai dia mulai merasa tubuhnya berubah, perlahan menjadi seorang wanita, Marni mulai menginginkan sesuatu- Entrok atau BH agar dia bisa berjalan atau loncat-loncat dengan nyaman.
Tapi wanita di era itu tidak terbiasa memegang uang. Hanya lelaki yang menerima upah, jasa wanita biasa dibayar oleh bahan pokok.
Marni tidak mau menerima itu, Marni ingin bekerja dan menerima uang, sama seperti laki-laki. Dari situlah mimpi Marni menjadi wanita berdikari muncul. Dari sebuah entrok sampai dengan menjadi orang paling kaya di dusun Srenggat. Benda yang tampak sederhana dan personal bagi seorang perempuan justru menjadi titik awal dari persoalan ekonomi, kemandirian dan posisi perempuan di masyarakat.
Selama perjalanan kita akan dibawa mengarungi kehidupan Marni, dari ia remaja yang baru haid, menikah, memiliki anak perempuan satu-satunya, Rahayu, hingga jatuh-bangun ia membangun kerajaan bisnisnya.
Namun kita juga dikenalkan pada sudut pandang Rahayu, terlahir silver spoon, diberikan akses pendidikan terbaik hingga paling tinggi, dan bertemu dengan cobaan-cobaan lain yang sama sekali berbeda dengan Ibunya.
Marni, wanita buta huruf, ulet, begitu patuh pada cara bumi bekerja- yang membuatnya cepat menyesuaikan diri. Sementara Rahayu, pintar, keras kepala, dan idealis.
Kedua wanita itu memiliki pandangan yang sangat berbeda terhadap hampir di semua hal, namun pada akhirnya mereka memahami bahwa perempuan hakikatnya mengalami masalah yang sama sebagai warga negara kelas dua di masa itu. Marni-self-made woman dihadang oleh gunjingan warga dan penguasa. Rahayu- wanita berpendidikan diberi cobaan idealisme dan penguasa.
Setengah membaca, jujur saya stress. Penulis membangun konflik demi konflik pada level sosial sehingga menimbulkan akumulasi ketidakadilan dan kekesalan. Sementara emosi tiap tokoh dijabarkan secukupnya sehingga saya akhirnya geram terhadap dunia yang dikisahkan Penulis tanpa cukup membangun kedekatan emosi pada Marni atau Rahayu.
Salah satu penyebab (atau akibat) kurangnya kedekatan emosi adalah pace plot yang berpacu cukup kencang. Not in bad way. Rasanya seperti menonton series yang dipadatkan dalam film 90 menit. Banyak bagian emosional yang bisa digali lagi, tapi batasan durasi (atau dalam hal ini halaman) membayangi. Jadi yes, rasanya seperti nonton film action.
Meskipun demikian, bukan berarti pembaca tidak merasakan apapun terhadap Marni atau Rahayu. Sebenernya emosi pembaca cukup nano-nano. Kadang kesel dengan Marni yang polos, atau Rahayu yang kepala batu (ini yang paling kesel...bisa-bisanya!).
Meskipun dinarasikan oleh dua POV, Marni dan Rahayu, tapi Penulis sangat kuat menyampaikan 'suara' tiap POV, terutama Marni. Menurutku, Marni ini adalah Tokoh utama yang utama. Marni memiliki pikiran yang polos namun juga satir, paling kentara diantara keduanya.
Yang paling menarik tentu ide besar dari novel Entrok yaitu pada karakterisasi. Pembaca memahami bahwa Marni dan Rahayu, meskipun Ibu dan Anak, memiliki latar belakang dan sifat yang sangat berbeda dan bagaimana cara mereka menghadapi masalah demi masalah secara berbeda.
Marni yang polos namun sangat kompleks. Dia memiliki ambisi sangat besar, tidak hanya keluar dari kemiskinan namun memberikan segalanya pada anaknya. Dia menghalalkan segala cara untuk menjadi kaya (arguably benar atau tidak) berpegang teguh selama dia tidak mencuri milik orang lain. Namun dia pasrah membayarkan suap kesana-kesini, karena begitulah cara dunia bekerja. Marni, tidak pernah mengenyam pendidikan formal namun memiliki kecerdasan praktis yang tidak bergantung pada pendidikan.
Sementara Rahayu, berpendidikan tinggi, pintar, idealis dan fanatis beragama, memberinya hak untuk mengotakkan manusia dari salah atau benar. Bahkan Ibunya Ia anggap sesat dan dijauhi. Hal itu karena usia dia belum bisa memahami kompleksitas manusia dan hidup, pendidikan tinggi tidak sendirinya mengajarkan kebijaksanaan emosional dan moral. Sebuah Ironi.
Sampai akhirnya mereka mengalami transformasi. Marni, seberapapun dijauhi anaknya tetap mencintai dan rela mengorbankan segalanya demi Rahayu. Dan Rahayu yang akhirnya memahami sudut pandang ibunya dan akhirnya memutuskan untuk mengabdi pada ibunya.
Saya baru bisa melihat ide besar karakter perempuan-perempuan ini di bagian tengah menuju akhir. Sebagian besar di halaman-halaman awal hingga tengah, sangat fokus pada kritik sosial.
Dan satu lagi, rasanya arc terakhir proses transformasi Rahayu agak terpotong, dimana pergulatan batin antara keyakinan lama dan kenyataan yang dia hadapi. Sesungguhnya saya mengharapkan ada 1 bab lagi POV Rahayu sebelum bagian akhir, proses bagaimana akhirnya ia memahami Ibunya.
Pada akhirnya, kekuatan Entrok bagi saya terletak pada karakterisasi Marni dan Rahayu: dua perempuan yang dibentuk oleh latar belakang dan keyakinan berbeda, hingga memandang dunia dengan cara yang nyaris berlawanan. Sayangnya, saya baru benar-benar melihat kedalaman gagasan ini di bagian tengah menuju akhir, ketika novel mulai lebih memperlihatkan kompleksitas hubungan mereka. Saya bahkan merasa transformasi Rahayu membutuhkan sedikit lebih banyak ruang untuk berkembang.
Meski demikian, Entrok tetap merupakan novel yang ditulis dengan kuat. Detail budaya dan sejarahnya memperkaya cerita sekaligus membuka wawasan saya tentang kejawen dan trauma antargenerasi yang melekat pada label PKI. Bagi saya, keterbatasan dalam kedalaman emosional bukan berarti novel ini tidak memiliki kedalaman gagasan. Novel ini justru mengajak saya melihat bagaimana ketidakadilan sosial membentuk kehidupan perempuan, meskipun saya berharap pergulatan batin mereka mendapat ruang yang lebih luas.
Comments
Post a Comment