Raising a Happier Mother by Anna Mathur
![]() |
| Hardcover Edition |
THE PERFECT, THOUGHTFUL GIFT FOR THE MUM IN YOUR LIFE!
This isn't a parenting book.
This isn't a guide to being a perfect parent ( they don't exist)
This is a book about you.
We can only anchor, nurture, nourish and instill confidence in our children when we extend the same support to ourselves. After all, how can we effectively tend to our children's needs when our energy reserves are depleted? How can we lead by example and teach our children the importance of healthy self-esteem if we are struggling with these things ourselves? There are a thousand and one ways to parent, and only one way that's authentic for you.
Drawing on her work as a psychotherapist, alongside her own experiences as a mother, Anna shows that caring with our children begins with caring for ourselves, and it's time to replace exhaustion with empowerment. Far from being selfish, self-care is an essential quality of a happier mother good parent. The greatest gift you can give to to yourself and your children, is to give yourself permission to thrive.
***
Judul : Raising a Happier Mother
Author : Anna Mathur
Published year : 2023
Language : English
Genre : Non-fiction, parenting, self-development
Pertama kali lihat judul buku ini, jujur aku langsung tertarik. In the middle of my everyday-chaotic-motherhood life. aku mengharapkan menemukan kunci untuk menjadi diriku pre-motherhood yang less-anxiety. In fact this is not a parenting book, ini adalah buku yang memaksamu untuk jujur terhadap diri sendiri dan melihat kembali definisi menjadi seorang Ibu.
I think almost of all of us have our motherhood fantasy. Gambaran
Ideal tentang seorang Ibu yang tertancap di benak kita seperti gambar Garuda
Indonesia di dinding kelas. Contohnya adalah fantasi menjadi Ibu yang penuh
welas asih, tidak pernah berteriak dan tidak pernah gagal memberi apa yang
dibutuhkan anaknya.
Di perkembangan dunia saat ini dimana foto, video, cerita,
insight yang dengan mudah kita akses melalui media sosial dan media lainnya
telah membuat garis antara yang nyata dan rekasaya menjadi buram, terlebih
membuat kita ingin melakukan dan memiliki lebih banyak dari seharusnya.
Di dalam bab pertama buku ini kita diminta untuk mengenali
tentang fantasi motherhood yang ada di dalam benakmu. Untuk membantu, penulis
memberikan beberapa pertanyaan:
- Apa
saja yang “seharusnya”? Contoh : Aku seharusnya selalu kalem, hadir,
melakukan sesuatu
- Bagaimana
dia komunikasi dengan orang di sekitar kamu?
- Bagaimana
dia menjalin hubungannya?
- Berapa
pertemanan yang dia punya? Dan bagaimana cara merawatnya?
- Bagaimana
dia terlihat?
- Bagaimana
harinya terlihat
- Apa
yang dia suka lakukan?
- Bagaimana
dia istrihat dan bersenang-senang?
- Perasaan
apa yang sering ia rasakan>
- Bagaimana
dia mendidik anaknya ketika bayi, anak sekolah, remaja dan orang dewasa?
Kemudian bandingkan jawaban dari pertanyaan di atas dengan diri kita saat ini, seberapa jauh gap antara keduanya? berapa banyak energi yang dihabiskan untuk mengejar gambaran ibu yang ideal itu? Semakin besar jarak, semakin besar potensi rasa bersalah, kritik terhadap diri sendiri, rasa gagal, malu dan rendah diri.
1. Keinginan mereplika atau menghindari pengalaman
di masa kecil
2.
Dari apa yang kita lihat di dunia lebih luas,
contohnya sosial media. Saat seorang Ibu sedang terkuras (lelah dan kewalahan),
dia tidak punya energi lagi untuk merasionalisasi apa yang dilihat di sosial
media. Jika hal ini terjadi, coba bandingkan apakah ada kesamaan Ibu yang
dilihat di sosial media dengan di kenyataan? Apa yang dilihat di sosial media
hanyalah fragment dari perjalanan motherhood seseorang.
3.
Peran Ibu saat ini sangat berbeda dengan
beberapa dekade yang lalu. Dulu, membesarkan anak adalah sebuah peran
tersendiri, tidak perlu justifikasi. Saat ini, keluarga akan kesulitan ketika
memiliki single income, dan sehingga seorang Ibu juga menjadi provider dalam
keluarga. Hal ini memicu timbulnya fantasi bahwa seorang Ibu seharusnya tidak
banyak menghabiskan waktu untuk memenuhi tuntutan kehidupan modern ini.
4. Kekuatan perbandingan. Saat melihat teman atau
orang lain, kadang kita sibuk membandingkan apakah kita sudah melakukan
pekerjaan menjadi Ibu dengan baik. Motivasinya mungkin adalah untuk
meningkatkan percaya diri. Namun kenyataannya sering sebaliknya.
5.
Merasa terkucil. Ketika kita tidak menjadi diri
sendiri dan berusaha agar lebih diterima orang lain, kita akan merasa lebih
kesepian
6.
Trauma
7. Saran yang hadir terus menerus dan kadang saling
bertentangan. Ketika ragu, kadang kita melihat apa yang orang lain lakukan
untuk meyakinkan diri. Namun semakin banyak informasi yang kita terima, semakin
kecil kemungkinan kita mendengarkan intuisi kita. Pola asuh orang lain, semirip
apapun kelihatanya, penuh dengan nuansa dan cerita pribadi. Ketika orang lain
melakukan hal yang berbeda, bukan berarti kita salah.
8. Takut dengan pandangan orang lain.
Di bab selanjutnya, setelah mengenali Motherhood Fantasy dan akarnya, kita membahas 6 hambatan atau tantangan untuk menjadi seorang
Ibu yang dimau.
1.
Rasa bersalah. Pada dasarnya rasa bersalah
baik karena bisa memperingatkan kita ketika sesuatu berjalan tidak semestinya.
Namun kadang rasa bersalah bisa berubah menjadi senjata untuk menghukum diri
sendiri. Dari: “aku melakukan kesalahan.” menjadi “aku salah.” Dan saat
tersebut adalah ketika rasa bersalah jadi rasa malu.
Rasa bersalah mendorong kita untuk memperbaiki kesalahan, sedangkan rasa
malu membuat kita merasa bahwa kitalah yang salah. Rasa bersalah fokus pada
tingkah laku sementara rasa malu membuat pernyataan tentang harga dan nilai
seseorang.
Ketika
kamu merasa bersalah, coba lakukan 3 langkah ini:
a. Address
: Sebutkan alasan kamu merasa bersalah, contoh : “Aku merasa bersalah karena
berteriak ke anak.”
b. Compassion
: Kita semua berhak untuk diberikan empati bahwa kita adalah orang baik yang
kadang melakukan hal buruk. Kalau sulit, bayangkan kamu berbicara dengan orang
yang kita sayangi.
c. Tweak
: Rasa bersalah mendorongmu untuk melakukan sesuatu, daripada mempermalukanmu.
Contoh : “Aku akan meminta maaf ke anak-anak dan katakan sayang ke mereka. Aku
sedang emosi dan bukan salah mereka.”
2.
Rasa Marah dan Kesal
Kemarahan pada anak adalah hal
yang wajar dan valid. Kemarahan pada anak bukan hal yang tabu dan akan terjadi
pada hubungan jangka panjang, sama seperti kemarahan kita pada pasangan.
Sama seperti rasa bersalah,
kemarahan adalah bendera merah yang memperingatkan kita bahwa sesuatu perlu
diperhatikan. Kemarahan dan kekesalan akan terjadi.Lebih baik kalau kita
mencari akar masalah dan penyebab kemarahan sekaligus mempertimbangkan hal lain
apa yang bisa dilakukan agar tidak marah lagi.
Jadi, berusaha mengelola rasa
marah dan kesal adalah wujud cinta kepada diri sendiri dan orang di sekitar
kita.
Saat sedang marah, bayangkan
seperti menghadapi toddler saat tantrum. Berhenti sejenak memvalidasi perasaan
kita sambil mencari tahu penyebabnya. Hal ini juga untuk menghindari kemarahan
kita meledak di suatu hari.
3.
Perbandingan dan Menghakimi
Membandingkan adalah melihat hal
lain yang berbeda dengan yang lain dan menganalisa kenapa mereka berbeda.
Contoh : "kamu menghadapi anakmu lebih tenang daripada aku."
Menghakimi adalah arti pribadi
yang kita terapkan pada perbandingan. Contoh : "kamu ibu yang baik
sedangkan aku gagal."
Masalahnya, tidak ada
perbandingan murni di dunia ini karena semua faktor harus sepadan agar
adil. Saat mulai membandingkan dan menghakimi, lakukan beberapa hal ini:
- Alihkan fokus.
Perbandingan dan menghakimi fokus pada apa yang tidak kita punya/ capai.
Ambil waktu untuk fokus apa yang sudah kamu lakukan dan raih.
- Menumbuhkan sikap
bersyukur yang bisa mengubah apa yang kamu sudah cukup. Tapi jangan sampai
tidal memvalidasi perasaanmu.
- Temukan Growth food. Kita
bisa mengagumi capaian orang lain tanpa mempertanyakan hidup kita sendiri,
namun untuk mencari area tumbuh dalam hidup kita
- Turunkan jangkar, kamu
mengetahui sesungguhnya siapa kamu. Tulis kenyataan agar kamu tidak merasa
goyah karena perbandingan. Contoh : “Au dicintai oleh orang-orang yang
mengenalku dengan baik.”
- Bercermin pada masa
kecilmu dan hal-hal yang paling penting dalam hidup. Kadang kita sibuk
membandingkan diri pada hal-hal yang tidak terlalu penting dalam hidup
baik saat kecil.
- Set batasan, seperti
batasi penggunaan sosial media ketika kamu merasa ingin membandingkan diri.
4.
Kesepian dan Diskoneksi
Dalam perjalanan Motherhood,
dibutuhkan satu komunitas untuk membesarkan anak, dan ketika kita tidak
memiliki atau tidak bisa mengaksesnya, bagaimana mungkin kita tidak merasa
kesepian?
Jika penawar kesepian adalah
keterhubungan dengan orang lain, maka penghalang terbesar untuk menjalin
hubungan itu adalah cara kita memandang keberanian untuk membuka diri.
Untuk mengatasai kesepian, kita harus menerima dan membuka diri.
Semakin kita jujur tentang
perasaan kita, anak-anak melihat lingkaran emosi penuh.
Anak-anak belajar bahwa perasaan
tidak menakutkan, dan akan berlalu, berubah dan beralih. Saat mereka melihat
Ibu bergantung pada orang lain dan meminta bantuan, mereka belajar bahwa kadang
mereka berhak untuk dipeluk.
5.
Ketakutan dan Kecemasan
Salah satu yang menghalangi kita
dari menjadi versi terbaik diri sendiri adalah kecemasan.
Kadang kecemasan muncul karena
pikiran dan skenario yang terlintas di kepala kita. Hal-hal yang belum terjadi
dan mungkin tidak terjadi.
Kecemasan adalah cara alami tubuh
dan pikiran merespons stres, memberi energi yang luar biasa untuk bertindak
ketika diperlukan. Kecemasan dapat membuat berpikir dengan cepat, menemukan
solusi di luar kebiasaan, dan bereaksi dengan cara-cara yang kemudian membuat
takjub.
Tantangannya adalah ketika
kecemasan menjadi super sensitive yang bisa menyita isi pikiran kita dan
mengambil waktu istirahat, menantang kemampuan kita untuk benar-benar hadir
saat ini, bahkan mendikte keputusan untuk kita dan anak-anak kita.
Kita tidak bisa menghindar dari
hal yang buruk terjadi, tapi kita bisa fokus pada sisi koin yang mana. Ketika
kita memeluk anak sambil ketakutan, bayangkan membalik koin dengan fokus
pada cinta besar yang sedang dirasakan sekarang.
Mengatasi kecemasan membantu kita
menjadi Ibu yang kita inginkan. Saat pikiran kita tidak lagi dipenuhi oleh
kecemasan dan belajar menghadapi ketidakpastian yang memang tak bisa dihindari
dalam hidup, kita berhasil menenangkan sistem saraf dan dapat merespons apa pun
yang terjadi di sekitar kita dengan lebih tenang, sadar, dan sesuai dengan
nilai-nilai yang kita pilih.
6.
Rasa capek dan kewalahan
Berapa banyak waktu istirahat
yang diizinkan dalam Motherhood Fantasy?
Harga yang harus dibayar saat
lelah adalah kita menjadi ibu yang berbeda saat lelah atau kewalahan. Perbedaan
utama adalah jarak waktu antara suatu kejadian dan respon kita
menjadi sangat pendek. Respon kita pun hanya membuat kita menyesal atau malu
kemudian.
Beberapa tanda ketika kita mulai
lelah adalah berkurangnya kemampuan regulasi emosi, kehilangan selera humor,
tidak bisa rilek, meningkatnya kekhawatiran, mulai membandingk-bandingkan,
kritik terhadap diri sendiri semakin keras, rendahnya kepercayaan diri dan
kesulitan mencari dan menerima bantuan.
Ada dua tipe istirahat yaitu
Pasif dan aktif. Istirahat pasif seperti junk-food, berguna namun tidak
sepenuhnya tepat. Contohnya adalah scrolling di internet. Istirahat aktif membutuhkan
lebih banyak niat, usaha, dan persiapan, tetapi manfaat yang diperoleh juga
jauh lebih besar. Dalam beberapa aktivitas ini, bukan hanya mengistirahatkan tubuh, tetapi
juga memberi asupan, merawat, dan menutrisi dirimu secara menyeluruh. Contohnya
adalah membaca buku, meditasi.
Mengubah pandangan terhadap
istirahat membawa keseimbangan dalam hidup dan membantu agar bisa merespon
dengan baik pada anak. Saat merasa akan kewalahan, segera nilai apa dan
resources yang sedang dibutuhkan.
Setelah mengenali hal-hal apa saja yang menghalangi kita
menjadi Ibu yang lebih Bahagia, bab berikutnya Adalah menemukan kembali diri
sendiri yaitu dengan menepis Konsep “Ibu yang sempurna”
Melepas konsep ibu yang sempurna dari fantasi bukanlah satu
kali aksi, namun seperti ular tumbuh dan melepaskan kulitnya, kita akan
menemukan kepercayaan diri dan awareness bagaimana fantasi keibuan gagal.
Menolak Kepalsuan
Dengan melepaskan kepura-puraan dan ekspektasi yang tidak
realistis terhadap diri sendiri, kita menciptakan ruang bagi orang lain untuk
menjadi autentik. Ketika topeng "ibu yang sempurna" mulai runtuh,
hubungan antarsesama ibu pun menjadi lebih bermakna.
Validasi paling kuat berasal dari diri sendiri
Pujian dari orang lain memang enak didengar dan menguatkan,
namun yang perlu diingat adalah mereka hanya melihat satu sisi dari diri kita.
Sejak kecil kita belajar bahwa menyenangkan orang lain
membuat kita merasa diterima. Akibatnya kita mulai mengabaikan keinginan dan
intuisi sendiri demi memenuhi ekpektasi orang lain. Lama-lama hal itu mengikis
rasa percaya diri untuk menjadi diri sendiri.
Jangan menunggu untuk menyingkirkan lingkaran fantasi
motherhood
Jangan menunggu sampai merasa cukup layak atau cukup percaya
diri untuk beristirahat, meminta bantuan, atau lebih berwelas asih pada diri
sendiri. Perasaan layak dan percaya diri itu tidak selalu datang lebih dulu.
Justru dengan memberi diri sendiri izin untuk melakukan hal-hal tersebut
sekarang, rasa percaya diri akan tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lakukan untuk sosok kita di masa kecil
Mungkin kita ingin memegang sosok Ibu yang ideal agar lebih
diterima oleh grup baru atau ingin memberi kesan pada orang judgemental yang
datang ke rumah. Ketika mendengar diri
sendiri mulai mengkritisi, atau menghindari beristirahat, coba bayangkan kita
saat kecil, mungkin usia 5 tahun, dan tujukan kritikan itu padanya. Bayangkan kita
berkata padanya kalau dia tidak cukup, atau apa yang dia rasakan tidak valid.
Biarkan empati yang kita rasakan untuk sosok masa kecil itu juga dirasakan kita
saat ini.
Lakukan untuk anakmu
Seorang Ibu tentu ingin memberikan yang terbaik untuk
anaknya. Karena itulah, kita sering berusaha menjadi ibu terbaik.
Masalahnya, seorang ibu yang "sempurna" tidak
dapat mempersiapkan anak untuk menghadapi dunia yang tidak sempurna. Kita bisa
menjadi ibu yang baik namun menjadi masalah ketika kita harus membayarnya
dengan menjalani kehidupan yang melelahkan dan menuntut pengorbanan yang begitu
besar.
Akan jauh lebih bermanfaat jika kita mengarahkan energi
untuk menemukan cara menjalani motherhood yang lebih berkelanjutan dan tetap
memberi ruang bagi sisi kemanusiaan kita—dengan segala keterbatasan dan
ketidaksempurnaannya.
Tanpa disadari, kita cenderung mewariskan pola pengasuhan
yang kita terima dari orang tua kita. Salah satu pola yang sering diwariskan
adalah keyakinan bahwa menjadi ibu berarti harus terus berkorban hingga
mengesampingkan kebutuhan diri sendiri. Jika ingin memutus siklus itu, kita
perlu secara sadar memilih nilai dan cara menjalani motherhood yang ingin kita
wariskan kepada anak-anak kita.
Bergerak mengikuti perubahan
Ketika kita meninggalkan fantasi motherhood dan hidup sesuai
dengan sisi humanis, mungkin beberapa hal akan terlihat berbeda.
Perubahan yang sehat tidak selalu diterima dengan baik oleh
semua orang. Saat kita mulai menetapkan batasan dan berhenti mengejar standar
"ibu sempurna", beberapa hubungan mungkin berubah atau bahkan
menjauh. Namun, hal itu bukan berarti kita salah. Sebaliknya, perubahan itu
sering kali memperlihatkan hubungan mana yang selama ini hanya berjalan karena
kita terus mengorbankan diri sendiri.
Final tool:
Jika kita butuh encouragement dan clarity, selalu ingat tool
ini:
- Kenali
Motherhood fantasi yang muncul dalam benakmu. Contoh : anak mau ulang
tahun ke-15 dan Ibu ingin mengadakan pesta besar-besaran.”
- Cermati
konsekuensi ketika terlarut dalam fantasi motherhood : “aku hampir
membayar pake kartu kredit. Aku frustrasi dengan kadaanku. Aku merasa
gagal untuknya.”
- Kenali
tindakan apa yang perlu kamu lakukan dan kebutuhan apa yang perlu kamu
penuhi agar kamu dapat melepaskan diri dari mitos tentang "ibu yang
sempurna". Contoh: aku perlu menjabarkan kegagalan hubunganku, dan
merasa sedih karena mengubah stabilitas dan sumber yang aku punya. Aku
butuh menghubungi teman baikku dan membicarakan ini dengannya.”
Setiap pilihan yang selaras dengan diri kita yang autentik
memperkuat kepercayaan diri sebagai ibu. Dengan merawat diri sendiri dan
memenuhi kebutuhan kita, kita bukan hanya mengubah cara kita menjalani
motherhood, tetapi juga mewariskan kepada anak-anak keyakinan bahwa setiap
manusia berharga, pantas beristirahat, dan layak menerima hal-hal baik.
Hidup hanya sekali. Jangan habiskan hidup dengan mengejar
standar motherhood yang tidak realistis. Lepaskan ekspektasi lama yang
membatasi, lalu bangun kehidupan yang menghargai diri sendiri, sama seperti
kehidupan yang kita harapkan untuk anak dan orang-orang yang kita cintai.
Overall sebenarnya buku ini cukup life-changing untuk menyadarkanku tentang Motherhood Fantasy and how to repair my motherhood journey. Namun, secara content, beberapa paragraf terasa diulang-ulang dan mungkin kurang tersusun secara sistematis jika dibandingkan dengan buku non-fiksi lain yang pernah kubaca. Selain itu, mungkin terbaca seperti any self-development book jadi aku cukup bosan membaca pada bagian kedua.

Comments
Post a Comment