Burung-burung Manyar oleh YB Mangunwijaya

Versi Softcover


Novel Burung-burung Manyar dapat dibaca sebagai bentuk proyek pasca-kolonial. Novel ini berusaha untuk mencari penyimpangan yang terjadi dalam penulisan sejarah Revolusi Indonesia. Sejarah dalam novel Burung-burung Manyar diceritakan secara mengalir dengan beberapa masukan anekdot. Sejarah tidak disampaikan dengan nada otoriter.


Sejarah dicerita melalui kisah cinta seorang yang bekerja mendukung kemerdekaan Indonesia, Larasati, dan Satadewa alias Teto, orang Indonesia yang bekerja dalam angkatan perang Belanda.

Menjelang akhir novel, terdapat kejutan yang menggelitik. Teto atau terbangkitkan jiwa nasionalismenya, dengan menjadi relawan membongkar kecurangan perusahaan tempatnya bekerja yang merugikan Indonesia.

****
Burung-burung Manyar
Penulis : YB Mangunwijaya
Tanggal terbit pertama  : 1981
Bahasa : Indonesia
Halaman : 405 (terbit 2014)
Genre : Historical Fiction, Literature
Rekomendasi Usia : 18+

Dulu saat saya masih duduk di bangku sekolah, nama YB Mangunwijaya atau Romo Mangun sering kali muncul di buku modul Bahasa Indonesia dan membuat saya mengenali namanya sebagai salah satu tokoh literature modern di Indonesia. Sayangnya, bukunya dulu tidak bisa ditemukan baik di toko buku baru maupun loak.

Tahun lalu, saya sedang scrolling santai di Gramedia kemudian menemukan buku ini di rak, sendirian dan terpojok. Tanpa pikir panjang, saya langsung bawa ke kasir. Memang, akhir-akhir ini saya lagi mengumpulkan literatur lama seperti karya Ahmad Tohari, YB Mangunwijaya dll.

Burung-burung Manyar adalah karya pertama Romo Mangun yang saya baca dan sejujurnya saya tidak punya gambaran 'suara' beliau di dalam karya. Saya hafal 'suara' dari Ahmad Tohari, Eka Kurniawan, Dee Lestari, Laksmi Pamuntjak. Leila S Choiduri, namun untuk Romo Mangun, belum. Jadi saya bersiap untuk mendapatkan kejutan.

Buku ini terbagi menjadi tiga jaman utama, 1934-1944; saat Indonesia masih di bawah kependudukan Belanda dan perpindahan ke Jepang ; 1945-1950 Masa awal kemerdekaan Indonesia; 1968-1978 saat Indonesia mulai menjadi negara yang mandiri.

Dikisahkan oleh first person narrator, bujang yang menyebut dirinya anak kolong, Setadewa atau Teto atau Leo. Teto adalah anak priyayi yang lahir dengan garis keturunan elit, bapaknya petinggi di militer dan Ibunya yang masih ningrat. Meskipun anak tunggal, Teto memiliki sifat yang supel, rajin membantu dan mau berbaur dengan siapapun. 

Narator kedua adalah Atik, gadis kecil cantik dari Betawi yang masih saudara jauh dari Teto. Atik terlahir dari Ibu yang masih ningrat dan ayah petualang yang bekerja di Kebun Raya Bogor.

Di masa penjajahan Belanda, kedua anak tersebut tumbuh dengan berkecukupan dan hidup dengan privilege. Sampai akhirnya Jepang masuk ke Indonesia, Belanda dipukul mundur. Kehidupan Teto berubah 180 derajat. Dari mereka mengungsi pergi dari rumah di Solo, hingga Ayahnya menghilang.

Di masa-masa itu, Teto masih meneruskan pendidikannya dan akhirnya tinggal bersama keluarga Atik. Kedekatan singkat selama 1 tahun tersebut membuat Teto menjadi sangat dekat dengan Atik. Namun, masa gonjang-ganjing tersebut telah mengubah Teto, dari anak tidak berdosa menjadi pemuda yang sedang marah. Marah karena ketenangan hidup keluarganya direnggut oleh Jepang dan kemudian kepada tokoh-tokoh nasional yang saat itu sedang memperjuangkan berdirinya Republik Indonesia.

Satu hal yang Teto tahu adalah hidup selama kependudukan Belanda jauh lebih nyaman dan teratur daripada Jepang bahkan negeri ini berdiri sendiri, karena itu dia memilih untuk membela Belanda. Datanglah Ia ke seorang komandan yang Ia tahu sangat mencintai Mamanya, dan Iapun menjadi salah satu tentara KNIL.

Teto di masa itu sangat pemarah, impulsif, naif, egosentris. Menggunakan seragam KNIL-nya ia berbuat semaunya namun tetap saja Ia terus mencari Atik yang saat itu juga sudah mengungsi. Hati kecilnya selalu kembali pada keluarga Atik, entah karena itu adalah satu-satunya memori baik yang Ia ingin pegang erat-erat atau karena jauh di lubuk hatinya Ia sadar telah memilih kubu yang salah. 

Sebagai gadis muda terpelajar dan cerdas, Atik memilih berjuang di belakang tokoh  nasional. Teto tahu itu, mungkin karena itu dia malu.

Tentu saja sesuai dengan sejarah, Indonesia merdeka, Belanda keluar dari Indonesia dan Teto berada di persimpangan, apa yang harus Ia lakukan? nasionalisme mana yang ia pilih? Ia sadar dia adalah pribumi namun Indonesia yang dia kenal bukan yang ada di hadapannya saat itu.

Memasuki Arc terakhir dengan lompatan hampir 20 tahun, Teto menjadi manusia yang berbeda tapi sama. Dia masih pemarah tapi Ia simpan di dalam kepalanya sendiri, masih impulsif namun lebih banyak yang bisa dia rem. Di arc ini, Teto mencoba redeem rasa bersalahnya di masa lalu dengan menjadi whistle blower di negeri yang kini sedang sibuk modernisasi, dan eksplorasi sumber daya besar-besaran. Dan tentu saja, the most of all, mencari kembali sosok gadis yang sangat ia rindukan itu.

Sejujurnya, aku lebih merasa tulisan 'sebuah roman' yang ditulis di cover buku ini lebih ke roman dari warga negara kepada negaranya. Fungsi Teto di sini adalah sebuah instrumen satir yang dibikin oleh Romo Mangun untuk menyampaikan ide 'nasionalisme' sesuai dengan sejarah perkembangan Indonesia di masa itu.

Teto mungkin tidak sendiri menjadi manusia penuh privilege yang meragukan kemampuan Indonesia untuk berdiri sendiri di era itu (bahkan yang tanpa privilege  pun aku rasa juga merasakan hal yang sama). Di awal-awal kemerdekaan emang keadaaanya super carut marut, premanisme, korupsi, nepotisme, lebih teratur di masa penjajahan Belanda dimana governance nya lebih jelas dan terarah. 

Saat di arc terakhir, Teto bertransformasi menjadi instrumen untuk 'menyentil' Indonesia lagi. Dia menjadi manusia yang sudah bisa berdiplomasi (gak sekedar emosian), namun tetap saja nasionalisme yang dimilikinya tidak cukup untuk mengubah budaya yang sudah mengakar.

Membaca novel ini di era sekarang dengan semangat 17 Agustus, sungguh terlalu jujur. Cinta kita terhadap negara seperti cinta bertepuk sebelah tangan bertahun-tahun. Seperti Burung Manyar yang menyiapkan rumah sebaik-baiknya untuk sosok yang paling dicintai, namun tak berbalas. 

Namun sebenernya ada beberapa hal yang mengganjal dari buku ini. Pertama adalah transisi dari Teto arc II ke arc III menurut saya perlu dijembatani karena saya sedikit merasa atributnya tidak mengalami perkembangan, tapi agak out of character. Saya mau tahu sedikit saja diceritakan gimana dia bisa tiba-tiba jadi manusia baru seperti itu?

Kedua terkait dengan bab-bab setan koper. Entah saya sedang melamun atau gimana, saya sedikit berharap ada fungsi lain dari setan koper ini selain intrumen untuk menjelaskan kondisi Indonesia saat itu.

Ketiga, typo. Banyak saya menemukan typo seperti di halaman 318, tulisan MEMbangun. Kalau memang untuk penekanan kenapa tidak semua capslock? Lalu ada Mbah Glati yang tiba-tiba menjadi Mbak Glati.

To sum up, memnbaca Burung-burung Manyar ini rasanya kayak masuk ke kepala Teto dan petualangannya. Saya seperti sedang menonton Motion pictures daripada membaca Novel, dan yes it was great. Humor-humor satirnya begitu lucu, to the point namun tidak vulgar. Ada beberapa joke mungkin terasa borderline vulgar, tapi tidak banyak. 

Memberi label 'sebuah roman' di buku ini pun terasa seperti diledek habis-habisan oleh penulisnya. Saya nggak protes tapi rasanya agak gimana ya? Hahhaa

Membaca buku ini 40 tahun kemudian setelah terbit dan melihat kondisi sekarang rasanya seperti Teto ini adalah 'Joke on you, Indonesia', bikin sedih sambil ketawa karir.

Last, walaupun saya bilang ini adalah roman seorang warga negara pada negaranya, namun tentu saja masih ada kisah cinta antara Teto dan Atik. Teto adalah representasi cinta model lama: satu orang, satu cinta, forever.  Hal ini menarik di era sekarang karena pemahaman cinta telah banyak bergeser. Apakah mencintai satu orang selamanya masih cukup untuk hidup happily ever after? 


Yes, of course, go read this book!  



Comments

Popular Posts